728x90 AdSpace

PERNIKAHAN HANYA DI IZINKAN JIKA, PRIA DAN WANITA SUDAH MENCAPAI UMUR 19 TAHUN DALAM HAL UMUR PRIA DAN WANITA BELUM MENCAPAI UMUR 19 TAHUN, PERNIKAHAN DAPAT DILAKSANAKAN SETELAH MEMPEROLEH DISPENSASI DARI PENGADILAN AGAMA (PA) NIKAH DI KUA GRATIS, DI LUAR KUA MEMBAYAR RP 600.000,-, DISETOR LANGSUNG KE BANK MENGGUNAKAN KODE BILLING PNBP NR.. ZONA INTEGRITAS KUA, TOLAK GRATIFIKASI DAN KORUPSI, LAPORKAN JIKA TERBUKTI !!!
Latest News
02 July 2018

Dinamika Perkawinan (1)

Ini lanjutan pembahasan Kultwit tentang Bimbingan Perkawinan bersama Dr. Thobib Al-Asyhar, M.Si dari Ditjen Bimas Islam Kemenag RI dan dosen Psikologi Islam pada SKSG UI Salemba di laman Twitter @Kemenag_RI..
  1. Bagi keluarga baru, masing-masing pasangan pasti merasakan ada hal yang berbeda dibanding saat masih sendiri. Jika sebelumnya masih bergantung kepada orang tua, kini dituntut mandiri dan menyelesaikan hal-hal kompleks secara bersama. Dari sinilah mulai muncul aspek "muamalah" dan "ibadah" dalam perkawinan, sehingga perkawinan disebut setengah dari agama (nishf al-din).
  2. Sebagai penggalan dari perjalanan hidup manusia, perkawinan tentu mengalami pasang surut yg dipengaruhi oleh banyak hal. Sebagian perkawinan menjadi tidak harmonis krn pasangan tidak siap menjalani perannya dlm perkawinan. Sebagian lagi berantakan (cerai) karena suami-isteri tidak siap dg berbagai tantangan yg datang silih berganti.
  3. Agar kehidupan rumah tangga tetap sehat, harmonis, dan mampu menghadapi tantangan hidup, perkawinan harus ditopang 4 pilar perkawinan yg pernah disinggung sebelumnya, yaitu: (1) hubungan perkawinan adalah berpasangan (zawaj); (2) perkawinan adalah ikatan janji bersama yg kokoh; (3) perkawinan hrs dibangun dg sikap dan hubungan yg baik (mu'syarah bil-ma'ruf); (4) perkawinan dikelola dg prinsip musyawarah.
  4. Berdasarkan hasil riset psikologi, setidaknya ada 3 komponen utama yg mempengaruhi bentuk dan dinamika hubungan suami-isteri, yaitu: pertama, "kedekatan emosi". Komponen ini akan menggambarkan pasangan merasa saling memiliki, saling terhubung antar dua pribadi menjadi satu yang merasa tenteram.
  5. Komponen kedua, "komitmen", yaitu bagaimana kedua pasangan mengikat janji untuk menjaga hubungan agar lestari dan membawa kebaikan bersama. Komitmen ini akan membawa masing-masing pasangan dapat menjaga amanah, tidak mudah mengkhianati pasangannya dan tidak mudah putus asa saat dinamika perkawinan terasa amat berat.
  6. Komponen ketiga, "gairah", yaitu menggambarkan bagaimana hubungan suami-isteri tercipta keinginan untuk mendapatkan kepuasan fisik dan seksual. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa perkawinan akan menjaga mata dan alat kelamin (organ reproduksi), karena salah satu tujuan perkawinan adalah halalnya hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan (bukan sesama jenis).
  7. Dari ketiga komponen tsb akan muncul 7 macam kondisi, yaitu: (1) Kedekatan Emosi + Gairah + Komitmen. Kondisi ideal yang akan menciptakan sakinah, mawaddah, warahmah. (2) Gairah + Komitmen - Kedekatan Emosi. Kondisi pasangan suami-isteri seperti ini sulit mencapai ketenteraman hati, sehingga berakibat salah satu atau kedua belah pihak merasa tidak bahagia. (3) Komitmen + Kedekatan Emosi - Gairah. Pasangan suami-isteri yg tidak disertai gairah menjadikan kebutuhan seksual tidak terpenuhi. Sebagai individu yg sehat meski mereka memiliki komitmen hubungan yg kuat dan saling memahami antara satu dg yg lain, cepat atau lambat, dengan tidak adanya gairah ia akan cenderung mencari pemenuhan di luar hubungan suami-isteri. (4) Kedekatan Emosi + Gairah - Komitmen. Kondisi ini biasanya muncul pada saat pasangan sdg jatuh cinta. Perasaan menggebu mendominasi, sementara komitmen blm kuat. Jika kondisi ini berlanjut tanpa ada komitmen, maka iktikad kedua belah pihak tdk bisa dijamin, sehingga hubungan ini tidak langgeng. (5) Kedekatan Emosi - Gairah - Komitmen. Jika yg dimiliki pasangan hanya kedekatan emosi tanpa gairah maupun komitmen diantara keduanya, maka bentuk hubungannya mirip dengan persahabatan. Mereka merasa nyaman tetapi tidak bisa mendapatkan kepuasan seksual dan jaminan jangka panjang. (6) Gairah - Komitmen - Kedekatan Emosi. Gairah yg tinggi tanpa komitmen dan kedekatan emosi akan membuat hubungan yang tercipta hanya bersifat fisik belaka. Ini mirip hubungan dua binatang yg hanya mengadalkan instink biologis, sementara perkawinan merupakan hubungan jangka panjang yg membutuhkan komitmen. Perkawinan ini amat sangat rapuh. (7) Komitmen - Kedekatan Emosi - Gairah. Komitmen pasangan suami-isteri adalah bentuk penghormatan kepada perjanjian yg kokoh (mitsaqan ghalidzan) di mata Tuhan. Hubungan yg tanpa kedekatan emosi dan gairah adalah hubungan yg kering (cintanya hampa/empty love). Kondisi ini rawan perselingkuhan, baik fisik maupun psikologis.
  8. Keseimbangan antara ketiga komponen di atas tentu saja tidak kaku dan matimatis. Ada dinamika yg berubah-ubah, mengikuti dinamika perkembangan perkawinan. Suatu saat satu komponen akan terasa melemah. Apalagi mereka dalam kondisi tertentu, spt LDR (long distance relationship) atau hubungan jarak jauh, atau bisa juga salah satu pasangan ada yg sakit kronis.
Nah bagaimana cara menjaga dan memupuk ketiga komponen tsb, akan dilanjutkan pada uraian Kultwit minggu depan

Selamat berakhir pekan...
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 Comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Dinamika Perkawinan (1) Rating: 5 Reviewed By: Rusman 45