Lanjutan Kultwit tentang Bimbingan Perkawinan Sesi VII di laman Twitter @Kemenag_RI bersama dengan Dr. Thobib Al-Asyhar, M.Si. @biebasyhar dari Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama dan dosen Psikologi Islam pada Program Studi Kajian Strategis dan Global UI Salemba, Jakarta.
- Layaknya bahtera yg mengarungi lautan luas, pasti tdk pernah ada bahtera yang berlayar tanpa gelombang ombak, baik kecil maupun besar. Bahkan tdk jarang badai menerjang dari segala penjuru arah.
- Demikian juga dlm keluarga. Suami istri harus mewaspadai barbagai masalah yg berpotensi dan biasa muncul dlm perkawinan, terutama di tahun-tahun pertama. Dg pengetahuan dan kemampuan mendeteksi dan mengantisipasi diharapkan pasangan suami istri dpt lbh tanggap dan menemukan solusi bersama.
- Berikut ini beberapa masalah yg berpotensi muncul dlm menjalani perkawinan. Pertama, kepemimpinan dlm keluarga. Layaknya bahtera memerlukan nakhoda, rumah tangga juga memerlukan pemimpin yg bertanggung jawab, melindungi, dan mengayomi seluruh anggota keluarga. Umumnya pemimpin dlm keluarga adalah suami yg disebut dg kepemimpinan tunggal (QS: An-Nisa: 34).
- Selain kepemimpinan tunggal, ada keluarga yg menganut kepempimpinan kolektif yg dipikul bersama antara suami istri. Keduanya merupakan tim kepemimpinan yg dimiliki bersama dlm keluarga.
- Pada dasarnya, siapapun yg menjadi pemimpin dlm keluarga tdk perlu dipersoalkan sepanjang baik dan bertanggung jawab. Setidaknya, kepemimpinan dlm keluarga dpt dilihat dari beberapa indikator sbb:
- Memiliki kemampuan manajerial, bijaksana, berorientasi pd kepentingan anggota keluarga, mengayomi, dan memastikan seluruh kebutuhan anggota keluarga terpenuhi.
- Mampu bersikap adil kpd seluruh anggota keluarga, bukan yg menguasai, mendominasi, atau mengambil keputusan secara sepihak demi kepentingan dirinya sendiri.
- Mampu membangun suasana yg harmonis dan damai dlm keluarga, mendorong terciptanya budaya saling menghormati dan menghargai, serta merawat kasih sayang antara anggota keluarga.
- Masalah kedua yg berpotensi timbul dan sering muncul dalam keluarga adalah pembagian peran dalam keluarga. Ada dua peran penting dlm keluarga, peran domestik dan peran publik. Diantara peran domestik (tugas repsroduksi) diantaranya: memasak, menyuci, merawat anak, membersihkan rumah, menemani anak belajar, dan lain-lain.
- Sedangkan peran publik adalah tugas yg diorientasikan utk mendapatkan dana atau uang (income) dan utk kepentingan pengembangan potensi dan aktualisasi diri.
- Dua peran tersebut sering dipahami secara kaku, sehingga tidak jarang menimbulkan perselisihan antara pasangan. Suami harus bekerja di luar rumah, dan istri idealnya menjadi ibu rumah tangga utk mengurusi kepentingan domestik. Sebenarnya hal ini bisa diterapkan secara lentur sepanjang hasil kesepakatan bersama, sehingga tidak menimbulkan konflik dan tidak saling menyalahkan.
- Satu contoh kecil yg sering menjadi persoalan adalah saat istri bekerja (berkarier) di luar rumah. Ketika ada masalah dg anak, misalnya jatuh, prestasi anak turun, dll, yg sering disalahkan adalah istri semata krn bekerja di luar rumah. Jika keduanya telah sepakat, seharusnya hal ini tdk menjadi alasan berkonflik, tetapi diselesaikan bersama dg mempertimbangkan kondisi, kesempatan, kemampuan, dan kapasitas masing-masing. Wallhua'lam. []
0 Comments:
Post a Comment